Belajar dari Tiongkok — Catatan Dahlan Iskan

Standard

Begitu melihat cover dan penulis dari buku ini, tanpa ragu saya langsung menyambarnya dari rak buku di perpustakaan untuk saya pinjam. Dan setelah saya khatamkan buku ini, saya sungguh puas akan apa yang saya pelajari dan baca dari catatan tersebut. Bagi saya yang belum pernah pergi ke Tiongkok (sure someday I will..!) buku ini menjadi sangat luar biasa menjelaskan tentang Tiongkok dari berbagai segi, budayanya, bahasanya, kemajuannya, prinsip-nya, masyarakatnya, infrastrukturnya, dan semuanya tak luput dari pandangan si penulis.

Dalam buku ini, termuat 76 catatan perjalanan atau pengalaman penulis selama melancong ke negeri Tiongkok. Meskipun isinya hanya berupa catatan-catatan singkat tentang pengamatan selama berada di Tiongkok, tapi buku ini memiliki maksud dan tujuan yang lebih dari sekedar catatan pribadi. Jelas sekali, buku ini bertujuan untuk menginspirasi, memotivasi kita pembaca-nya untuk melakukan tindakan yang konstruktif untuk memperbaiki dan membangun bangsa dan Negara Indonesia.

Karena frekuensi penulis ke tiongkok yang sangat sering (setahun bisa 10 sampai 15 kali) dan banyaknya partner bisnis, teman, serta kolega yang harus ditemui, hal tersebut memaksa penulis untuk belajar bahasa mandarin di usia yang menjelang setengah abad. Catatan tentang belajar bahasa mandarin secara langsung di Nanchang (kota kecil di Tiongkok), memberikan gambaran betapa susahnya untuk mempelajari salah satu bahasa tertua di dunia tersebut di usia yang tidak lagi muda. Berbagai hambatan yang dihadapi mulai dari sulitnya untuk memilih pengucapan kata-kata dalam bahasa mandarin, hingga cuaca yang tidak bersahabat tidak mengurungkan niat dan perjuangan penulis untuk menguasai bahasa mandarin, meskipun hanya belajar membaca dan bicara saja, tanpa menulis.

Setelah bahasa, fokus pengamatan penulis beralih kepada perkembangan kota-kota kecil di Tiongkok yang kini berkembang pesat menjadi kota-kota besar yang maju, bahkan menyusul kemajuan Singapura. Sebagian besar kemajuan tersebut modal utamanya bukan uang, tapi ‘kemauan untuk membangun’. Itu yang mengubah wajah kota-kota kecil tersebut menjadi makin modern, bukan hanya penampilannya saja secara fisik akan tetapi modernisasipun semakin terasa pada masyarakatnya.

Infrastruktur juga turut diperhatikan dalam catatan penulis. Mengapa infrastruktur ? infrastruktur di Tiongkok sungguh luar biasa cepat pembangunannya. Hampir seluruh kota kecil dan besar di Tiongkok telah terhubung dengan jaringan jalan tol dalam kota maupun luar kota dengan total 150.000km (saat ini mungkin sudah lebih). Fakta yang paling miris bagi saya disebutkan bahwa pada tahun 1987, ketika Surabaya telah memiliki jalan tol Perak – Gempol sejauh 42km, saat itu Tiongkok belum memiliki jalan tol sama sekali. Namun, pada akhir tahun 2003, jumlah jalan tol di Tiongkok sudah mencapai 30.000km. Sebaliknya, jalan tol Perak – Gempol tidak bertambah satu kilometer pun (bahkan berkurang, akibat bencana Lumpur di Sidoarjo). Sejumlah jembatan puluhan kilometer lintas sungai dan pulau juga dibangun bahkan direncanakan akan dibangun terowongan bawah laut sepanjang 38km yang menghubungkan kota Ningbo dan Shanghai yang akan digarap dalam waktu kurang dari 3 tahun, sangat berbeda dengan pembangunan jembatan Suramadu (0,5km) dan menghabiskan waktu hingga 3 periode kepemimpinan presiden baru juga selesai. Selain itu dirilis pula kereta api tercepat di dunia (hingga saat ini) 430km/jam ‘maglev’ dengan rute dari dan ke bandara baru Shanghai di Pudong.

Dalam buku ini, penulis juga memperhatikan dari segi industri yang terus bermunculan tiada henti di segala penjuru Tiongkok. Hal tersebut ternyata juga dilatarbelakangi paham komunis yang dianut oleh Tiongkok saat ini adalah paham komunisme tiga kaki (awalnya komunisme bersaka guru pada buruh dan tani) tapi pada zaman modern ini, komunisme Tiongkok menambah saka gurunya menjadi buruh, tani dan pebisnis. Industri yang maju pesat, bukan tanpa perjuangan dan bukan serta merta terjadi begitu saja. Disebutkan di salah satu catatan penulis, tentang dibangunnya sebuah zona ekonomi khusus di Suzhou oleh Singapura pada awal tahun 1980-an, akibat dari pembangunan Suzhou Industrial Park atau yang dikenal dengan Singapura II tersebut, pemda setempat banyak belajar dari proyek tersebut, bahkan juga memperoleh banyak keuntungan secara kekuatan ekonomi. Hingga pada akhirnya pemda Suzhou membangun industrial-industrial zone diseluruh wilayahnya, yang membuat Singapura kecewa sampai-sampai saham mayoritas Singapura di Singapura II ini dijual ke Pemda Suzhou, dan nama industrial zone milik pemda dibuat semirip mungkin yaitu Suzhou Industrial Zone dan dengan harga jual yang sangat murah, sepertiga dari Singapura II, luar biasa pintar bukan pemda Suzhou (ibaratnya memancing di kolam ikan,, ).

Dari segi budaya, penulis sempat mengalami masa menjelang dan selama imlek (huo nian bahasa tiongkoknya) di Tiongkok, bagaimana suasananya mirip sekali dengan suasana hari raya idul fitri di Indonesia. Banyak yang mudik dan merayakan bersama keluarga, tradisi masyarakat masih sangat kental terasa, meskipun modernisasi terjadi dimana-mana.

Begitu banyak hal yang dapat dipetik dan dijadikan inspirasi pembangunan dari catatan-catatan penulis tentang belajar dari Tiongkok. Membaca buku ini , berasa saya sedang dibawa berjalan-jalan ke Tiongkok secara fantasi, bahkan begitu selesai membaca, saya mencoba mencari di internet peta Tiongkok, supaya lebih real melihat kota-kota yang disebutkan dalam catatan tersebut. Dari situ saya jadi heran, kenapa para pejabat, anggota DPR, DPRD, dll yang seringkali melakukan kunjungan kerja ke banyak negara maju di dunia (Tiongkok juga salah satunya) mengapa tidak bisa menghasilkan satu kemajuan yang berarti bagi Negara, sedangkan saya, hanya dengan membaca buku ini saja mendapat begitu banyak ilham untuk melakukan perbaikan kondisi Negara yang terpuruk.. (of course if I have power :P) , entah apa yang dipikirkan para pejabat yang sedang duduk manis disana.. terlalu banyak kepentingan pribadi dan golongan yang harus diurusi mungkin, hingga kepentingan rakyat menjadi urusan yang ke-sekian… waallahualam bi shawab.

2 thoughts on “Belajar dari Tiongkok — Catatan Dahlan Iskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s