pimpinan dan bawahan

Standard

pimpinan dan bawahan, keduanya saling melengkapi. dan memang sudah kodratnya ditakdirkan berbeda. perbedaan tersebut jelas terlihat dari income yang diperoleh pimpinan dan bawahan akan berbeda karena jelas tugas dan tanggung jawab antar keduanya juga berbeda

pimpinan dan bawahan jika di perusahaan swasta garis pisahnya terlihat jelas, sementara di pemerintahan kadang terlihat abu-abu, kenapa begitu ? karena seringkali ditemui di PNS banyak bawahan yang tugasnya seperti pimpinan tapi pendapatannya tetep seperti bawahan klo sering diistilahkan “kerjaan jendral gaji kopral”.. banyak juga ditemui di PNS, yang seharusnya sebagai pimpinan tapi kerjaannya sebagai kerjaan bawahan,, tugas operasional dan teknis.. ndak tau kenapa menjadi terbalik begini.. mungkin jg ini dikarenakan masalah ‘senioritas’ yang ada di PNS.. sebenarnya sih sah-sah saja yang lebih senior menjabat sebagai pimpinan terlebih dahulu.. hanya saja sering ditemui,, senioritas itu hanya dinilai dari lama masa kerja..kinerja dan kemampuan jg dinilai, tapi itu bukan jadi prioritas sepertinya.. jadinya yah begitulah pimpinan dan bawahan yang ditunjuk jadi tidak put the right man on the right place,,

tapi itu tidak bisa digeneralisir terjadi di semua instansi pemerintahan.barangkali itu hanya sebatas pengamatan saya saja. atau di instansi saya saja yang seperti itu.hal yang berbeda utama dari pimpinan dan bawahan adalah tentang tanggung jawab.

saya juga baru menyadari, tanggung jawab pembinaan bawahan pun terletak di pimpinan. jadi klo sampe’ ada bawahan yang bandel, suka mbolos, ndak ada kerjaan, ndak pernah ikut pelatihan , atau ndak adil perlakuannya antar pegawai itu juga masuk kedalam area tanggung jawab pimpinan. saya jadi mikir, rasanya tambahan pendapatan itu ndak akan pernah seimbang dengan tanggung jawab non-fisik yang kita emban sebagai pimpinan. pertanggungjawaban kelak di akhirat jelas bukan main-main, sekecil apapun perbuatan kita akan diperhitungkan baik buruknya..

saya sendiri berbangga diri menjadi bawahan, dan insyaallah tetap istiqomah menjadi bawahan, seandainya sangat terpaksa menjadi pimpinan ya harus berupaya menjadi pimpinan yang amanah. yang bukan sekedar mengecap tambahan income yang diperoleh, kekuasaan yang dipegang tapi juga bertanggung jawab sebenarnya terhadap bawahannya.. saya pikir ndak mudah untuk menjadi pimpinan yang amanah, tapi bukan tidak mungkin bisa menjadi pimpinan yang amanah. menjadi bawahan pun, IMO, cukup melelahkan kadang. terutama kalau pimpinan bertindak tidak adil antar bawahan.. tapi seperti halnya orang tua yang punya fitroh lebih menyayangi salah satu anaknya dibanding yang lain, barangkali pimpinan juga begitu.. hanya saja menjadi bawahan itu saya merasa lebih nyaman, karena tanggung jawab atas pekerjaan saya dan yang saya lakukan di kantor ada pada pimpinan saya, selama saya bekerja dengan baik tentu pahala pun bertambah pada pimpinan saya, dan saat saya melakukan perbuatan buruk atau malas-malasan bekerja barangkali dosa pimpinan saya bisa saja bertambah.. wallahualam..

tapi seperti berputarnya bumi terhadap matahari, begitu pula nasib manusia, yang awalnya bawahan sekarang menjadi pimpinan, yang dulunya pimpinan sekarang jadi bawhaan (klo di PNS, kemungkinan kecil hal ini terjadi). klo suatu saat menjadi pimpinan jadi tahu bagaimana jadi bawahan, perasaannya, apa yang dibutuhkan pegawai dlsb.. jangan justru sebaliknya saat sudah jadi pimpinan balas dendam hal yang serupa kepada bawahannya.. dengan dalih pimpinan yang dulu juga begini koq, repot klo sudah begitu alasannya

suggestion bagi bawahan :

– yang mempunyai pimpinan yang amanah dan baik, jadi lah bawahan yang mempunya loyalitas dan perfromance yan tinggi. selalu dukung dan beri masukan yang baik bagi pimpinan.

– yang mempunyai pimpian belum amanah, tetaplah menjadi bawahan yang mempunyai performance baik, tidak banyak membicarakan keburukan pimpinan dan tetap lakukan pekerjaan sebagai bawahan sebaik mungkin.

suggestion bagi pimpinan :

– yang mempunyai bawahan rajin bekerja dan loyal, didik dan kembangkan bakat dan kemampuan bawahan tersebut dengan baik tanpa melupakan pegawai yang lainnya, berlaku adillah dan jangan mudah terjilat oleh penampilan bawahan..

– yang mempunyai bawahan malas bekerja, didik bawahan tersebut lebih keras dari biasanya, bila perlu terapkan reward n punishment. tetap beri mereka kesempatan untuk bekerja dengan baik.

– jika berlaku sewenang-wenang terhadap bawahan, ingatlah diatas langit masih ada langit.dan hanya Allah SWT saja yang berhak menyandang selendang sombong..

conclusion : bagi para pimpinan dan bawahan, berdamailah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s