hindari hidup seperti air mengalir

Standard

saya mendapat sebuah pernyataan yang cool dan keren saat bertemu dengan teman baru dari makassar di bandung minggu lalu. trims teman atas sharenya.. beliau baru saja kehilangan suaminya 3 bulan yg lalu akibat penyakit jantung (mendadak), pada kantung matanya masih terlihat bekas-bekas kehitaman, namun berbeda dengan senyumnya. dia sendiri mengaku sudah cukup ceria dan tegar menghadapi kehilangan pasangannya, bahkan seringkali dia menceritakan tentang sosok suaminya sambil disertai canda tawa.. terlihat dia sudah mengikhlaskan kepergian sang suami tercinta..

ibu itu berkata pada saya, sesaat menjelang tidur. dulu dia berprinsip hidupnya itu seperti air mengalir, mengikuti saja kemana takdir membawa kita, menjalani saja dengan pasrah apa yang ditentukan terjadi pada kita.. ternyata saat dia kehilangan suami nya hal tersebut terasa berat baginya, dia pun disadarkan oleh seorang teman.. bahwa hanya kotoran yang mengikuti aliran air , apakah dia/kita yang berprinsip demikian mau dianggap , disamakan dengan kotoran.. tentu tidak bukan..

sejak itu, dia pun berjuang untuk dirinya, untuk anaknya dan untuk membanggakan suaminya yang di surga (insyaallah).. tidak akan lagi mengikuti air mengalir dan menjadi serupa dengan kotoran..

we must struggle to feel alive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s