Dunia medis itu materialistis ?

Standard

Masih lanjut nulis akibat triger yg sama dr postingan seseorang di sosmed.. Kutipanya 

d

unia medis yang materialistis

Tidak.perlu ditanya pasti komen miring dan menghujat si postinger (maafkan klo aneh istilahnya..🙂 ) dari para ahli dan pelaku medis bertebaran di status beliaunya..

Well, mohon maaf para pelaku medis pada pernyataan tersebut saya mengangguk setengah setuju berdasarkan yang saya alami sbg masyarakat pengguna asuransi kesehatan milik negara.. Kenyataan bagi saya di lapangan terlihat demikian..

Dengan semakin beragamnya penyakit dan banyaknya orang yang melakukan pemeriksaan kesehatan mutlak jasa medis dan bisnis di bidang medis semakin diminati.. Nah klo sudah bilang medis ditambahin kata bisnis, yah automatically jadi profit orientation. Itu sih sederhananya kenapa saya setuju. Prakteknya yg saya lihat dan dengar dr ibu saya  karyawan di salah satu RS swasta yg jg melayani asuransi kesehatan.. Justru lebih miris sodara, let say ibu saya sendiri yg sudah mengabdi selama 35 th di RS tsb, sejak ada peraturan semua naker wajib pake asuransi milik negara jadilah ibu saya juga harus pake asuransi tsb yg you-know.lah ya klo.mo periksa kudu ke level 1/dulu baru bs naik.level klo sudah level 1 g bs nanganin.. Pas pernah ibu saya cerita ada kasus, teman kerjanya sakit dia demam, mual, dan pusing saat sedang bekerja. Krn utk.mendapat ijin istirahat harus mendapat surat ket. dari dokter yah kan kudu periksa dulu ke level1/ kan ? But. Cmon.. Si pekerja kan jg lg d RS, ketemu banyak dokter.. Trus harus ke level1/ dulu gitu .. Jawabnya iya. Ok diladenin si pekerja pergi ke level 1/ antri diperiksa dikasih surat istiraha dan obat generik pastinya.. 2-3/hari berselang masih sama sakitny g berkurang, akhirnya brkt lg ke level 1/ dg harapan bs dpt rujukan utk berobat ke level 2/ which is tempat kerjanya dia.. Dan jawban dr level 1/ bilang klo emang  g akan instan trus langsung mendingan sakitnya, tp pola makan dijaga, istirahat dicukupin, obat diminum, lagian jg blm 5hari.. Semakin sakitlah ndengeri hasil dr level 1/ tsb.. Krn ini.maslah badan yg sedang sakit bukan masalah sepele jadi si pekerja yang jelas pelaku medis berobat berbayar lah ke bisnis medis lainya demi kesembuhan..

Itu yg sy bilang salah satu contoh materialistisnya.. Logika lain saya ttg kenapa saya setuju..

Setiap pelaku medis bisnis medis, ahli medis (dokter atau apapun sebutanya) pasti akan memuat sebuah tarif akan jasanya, padahal sejatinya apakah teori dasar dlam ilmu medis itu menuntut sebuah imbalan sebagai balas jasa dari tindakan penyelamatan yg dilakukan. Jarang bisa ditemui dokter ahli yg tdk memasang tarif utk jasa konsultasi atau tindakan yg diberikan kepada pasien, ada satu yg sy pernah baca dokter dibayar seikhlasnya di medan, dokter sp anak saya pun tdk.menarik bayaran bagi kalangan yg tidak.mampu saat pemeriksaan even beliau sudah profesor.. Hanya saja pelaku medis yg demikian itu adanya seperti finding a needle in haystack.. One in a million lah pokoknya..

Yang juga saya ingat saat mengerjakan tugas akhir ttg aplikasi utk.pengelolaan RS, dosen pembimbing saya yg jg punya bisnis medis bilang ” RS itu sebenarnya sangat matre, karena setiap tindakan yg diberikan dibebankan pada pasien ” ..

Jadi kalau saya bisa simpulkan yang materialistis lebih tepatnya para pelaku medis, bisnis medis yang berkecimpung.. 

Itu juga yg menjadikan daya tarik luar biasa bagi anak anak lulusan sma hingga mungkin anak tk utk menjadikan ahli medis sbg promising future job..  Alasan kemanusiaan membantu sesama entah ada di peringkat keberapa. Sampai pada akhirnya berakibat mau masuk sekul kedokteran Uang pendaftaran mencapai ratusan juta rupiah.. Klo orang tua berada yah dibayar segitu demi anak dan masa depan anak katanya, tp.apa mikir passion anak disitu, anak itu bs g melayani secara kemanusiaan, anak itu apa punya kemampuan berpikir analisis diagnosis dan ingatan yg cemerlang.. Mulai dari sekulnya aja bayarnya mahal,sekali lagi hanya ada beberapa.kejadian langka kalau sekolah kedokteran biaya minim..

Sudah sedikit terkuak kan letak materialistisnya  dunia medis di bagian mana ? Tidak sebuah generalisasi pada semua pelaku medis.. Mungkin akan saya sebut ‘in common, medical expert are materialistic’ bukan ‘all medical expert are materialistic’

Sebagai harapan bagi para tenaga dan pelaku medis di negara indonesia.. Kalau anda semua berada dalam visi yang sama untuk.menjadikan bangsa ini sehat di tahun 2025 (bener g yah, CMIIW).. Kembalilah menjadi tenaga medis yg fitrahnya adalah bekerja berdasar kemanusiaan bukan dari banyaknya imbalan.. Imbalan yah boleh lah yah krn memang anda bekerja, Tapi apa iya sampai berlebihan hingga yang periksa terkuras habis duitnya jual harta bendanya demi kesembuhan yg basically expensive tapi semakin mahal lagi ditambah ongkos materialistis bisnis medis tadi..

Mau orang yg periksa kaya atau miskin diperiksanya sama, perlakuan dan pelayanan sama.. Tpi karn UUD (ujung ujunge duit) tadi yg bikin dua golongan itu semakin dipisahkan jurangnya dalam rangka mencari kesembuhan..

As a closing, mencegah itu lebih murah daripada mengobati. Jadi pola hidup sehat itu yg kudu kita jalanin utk tidak sampai berakibat fatal saat harus berurusan dg pelayanan medis..

Dunia medis materilistis benarkah ? Yah, bisa jadi..

Semoga sehat sehat terus semua, mohon maaf kalau dari opini saya ada yang tersinggung.. Semoga bermanfaat ^ – ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s